
Kota Curup tampak dari Bukit Basah
Oleh: Rizani Oktaviansyah
PENDAHULUAN
Sejarah Nusantara terlalu lama ditulis dari bibir pantai. Dermaga, armada, dan pelabuhan diperlakukan sebagai pusat segalanya, seolah kekuasaan lahir dari ombak dan layar. Padahal, dalam tata dunia Asia Tenggara kuno, laut hanyalah wajah luar dari kekuatan yang sesungguhnya bekerja jauh di pedalaman. Kekuasaan di hilir tidak pernah berdiri sendiri; ia adalah bayang-bayang dari kedaulatan di hulu¹².
Dalam kerangka ini, wilayah Rejang di pedalaman Sumatra bukan sekadar daerah pinggiran, melainkan simpul strategis yang menentukan hidup-matinya imperium besar, dari Sriwijaya, Melayupura, Kandis, Pagaruyung, Majapahit, Palembang Darussalam, hingga akhirnya kolonialisme Belanda.
HULU SEBAGAI STRUKTUR KEKUASAAN
Sejarawan Asia Tenggara seperti George Coedès dan O. W. Wolters telah lama menjelaskan bahwa kekuasaan pra-modern bekerja melalui sistem mandala: kekuasaan tidak bersifat teritorial modern, melainkan relasional, simbolik, dan bergantung pada wilayah penyangga¹².
Dalam konteks Sumatra, struktur ini termanifestasi dalam sistem ulu–ilir. Hulu sungai adalah pemasok emas, manusia, dan legitimasi kosmologis. Hilir hanya menjadi etalase politik.
Wilayah Rejang—yang menguasai jalur hulu Sungai Musi, Ketahun, dan jaringan Batanghari—berfungsi sebagai mesin logistik imperium. Tanpa aliran emas dari hulu, pusat kekuasaan di Palembang atau Minangkabau kehilangan daya tawar diplomatik dan ekonomi.
REJANG DAN SRIWIJAYA: JANTUNG YANG TAK DITULIS
Sriwijaya kerap dipahami sebagai imperium maritim. Namun penelitian perdagangan Asia Tenggara menunjukkan bahwa kekuatan Sriwijaya justru bertumpu pada komoditas bernilai tinggi, terutama emas Sumatra³. Emas bukan sekadar barang dagang; ia adalah medium upeti, simbol kemakmuran kosmis, dan basis legitimasi diplomatik di hadapan Tiongkok dan India.
Emas itu tidak lahir di pesisir. Ia berasal dari pedalaman: dari wilayah Rejang dan Lebong yang sejak awal dikenal sebagai tanah suwarna. Toponimi, tradisi lisan, dan temuan arkeologis—termasuk keramik Dinasti Song di pedalaman—menunjukkan integrasi wilayah hulu ini ke dalam jaringan global jauh sebelum kolonialisme.
Temukan lebih banyak
Bengkulunetwork
Kota Bengkulu
Bengkulu Network
Dengan demikian, runtuhnya Sriwijaya tidak dapat dibaca semata sebagai akibat serangan laut atau pergeseran jalur dagang, melainkan sebagai terputusnya kontrol atas hulu.
MAJAPAHIT DAN REJANG SINDANG MARDIKA
Masuknya pengaruh Jawa melalui Singasari dan Majapahit tidak mengubah logika ini. Kakawin Nagarakretagama sering disalahpahami sebagai peta administratif. Padahal, ia adalah teks sastra-politik yang mencatat klaim simbolik atas wilayah-wilayah seberang, bukan bukti pendudukan militer langsung.
Majapahit memahami bahwa wilayah seperti Rejang adalah Sindang Mardika—wilayah yang asalnya merdeka. Karena itu, pendekatan yang digunakan bukan penaklukan frontal, melainkan integrasi simbolik: relasi elit, kosmologi, dan pengakuan timbal balik. Jejaknya terbaca dalam situs-situs pedalaman Sumatra yang kerap disebut sebagai “tanah Majapahit”, bukan sebagai koloni administratif.
Pendekatan ini sejalan dengan pembacaan sejarah lintas-ekologi ala Denys Lombard yang menempatkan gunung, hutan, dan pantai sebagai satu sistem sejarah terpadu.
AKSARA KAGANGA: BENTENG EPISTEMOLOGIS HULU
Bukti paling kuat tentang kemandirian Rejang terletak pada keberlangsungan aksara Kaganga. Kajian filologis menunjukkan bahwa aksara ini digunakan untuk mencatat hukum adat, silsilah, dan pengetahuan lokal—bukan untuk administrasi negara pusat.
Secara politik, literasi lokal ini berfungsi sebagai benteng epistemologis. Ia memungkinkan masyarakat hulu bernegosiasi dengan imperium tanpa kehilangan kedaulatan pengetahuan. Dalam kerangka antropologi politik, ini sejalan dengan konsep the art of not being governed—strategi sadar masyarakat pedalaman untuk menjaga otonomi dari kekuasaan negara⁷.
BELANDA DAN STRATEGI MEMBUKA AKAR SUMATERA
Puncak pengakuan paling telanjang atas pentingnya Rejang justru datang dari kolonialisme Eropa. Traktat London 1824—ketika Belanda menukar Singapura dengan Bengkulu—bukanlah kesalahan diplomatik, melainkan keputusan geopolitik yang sadar.
Arsip kolonial Hindia Belanda secara eksplisit mencatat bahwa wilayah Lebong adalah kunci emas Sumatra⁸⁹. Selama wilayah ini berada di luar kendali, kekuasaan kolonial di pesisir tidak stabil. Karena itu, operasi militer di Bengkulu–Lebong adalah upaya sistematis menghancurkan struktur Sindang Mardika yang selama berabad-abad menopang kemandirian Sumatra.
PENUTUP
Menempatkan Rejang sebagai aktor strategis bukan romantisme lokal, melainkan koreksi historiografis. Dari Sriwijaya hingga kolonialisme Belanda, pola yang sama berulang: siapa menguasai hulu, menguasai imperium; siapa menghancurkan hulu, menghancurkan fondasinya sendiri.
Sejarah Indonesia tidak cukup ditulis dari laut. Ia harus ditulis dari gunung, hutan, dan sungai hulunya.
Di Sumatra, fondasi itu bernama Rejang.(**)
CATATAN KAKI:
¹ George Coedès, The Indianized States of Southeast Asia (1968).
² O. W. Wolters, History, Culture, and Region in Southeast Asian Perspectives (1982).
³ Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce (1988).
⁴ Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (1996).
⁵ Mpu Prapañca, Nagarakretagama (1365).
⁶ Uli Kozok, Warisan Leluhur (2010).
⁷ James C. Scott, The Art of Not Being Governed (2009).
⁸ Algemeen Verslag van het Binnenlands Bestuur, Residentie Benkoelen (abad ke-19).
⁹ Militaire Rapporten, Westkust van Sumatra (abad ke-19).
BIODATA PENULIS: Penulis pernah bekerja sebagai wartawan di Jawa Pos Grup Wilayah Sumbagsel. Kini aktif menulis lepas di media online.