
Penjual bunga berjejer di depan TPU Mergo Kelurahan Talang Rimbo Baru.
Beritarejanglebong.com - Ramadan selalu punya cara menghadirkan suasana yang berbeda. Bukan hanya di masjid atau pasar takjil, tetapi juga di tempat yang sunyi, di antara nisan dan rerumputan yang tumbuh di atas tanah pemakaman.
Di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Mergo, Kelurahan Talang Rimbo Baru, Kabupaten Rejang Lebong, langkah-langkah peziarah terdengar lebih sering dari biasanya.
Sejak beberapa hari terakhir, TPU yang dikenal sebagai salah satu yang terbesar dan tertua di Kota Curup itu tak pernah benar-benar sepi.
Baca Juga: Antrean Rindu di Depan Lapas Kelas II A Curup
Pagi, siang, hingga menjelang sore, orang-orang datang membawa rindu, doa, dan sekantong bunga tabur.
Di pintu masuk pemakaman, deretan pedagang bunga duduk bersahaja. Di hadapan mereka tersusun kantong-kantong plastik berisi campuran mawar, bougenvil, pandan, kenanga, dan aneka bunga lainnya. Warnanya cerah, kontras dengan tanah makam yang kecokelatan.
Bagi para pedagang, Ramadan adalah musim yang ditunggu.
“Kalau hari biasa, paling banyak 10 kantong terjual. Sekarang bisa 30 sampai 50 kantong sehari,” kata Rivan, salah satu penjual bunga di sekitar TPU.
Wajahnya tampak lelah, tetapi senyumnya tak bisa disembunyikan.
“Alhamdulillah, bulan ini memang lebih ramai. Biasanya makin mendekati Idul Fitri, tambah banyak lagi yang datang,” tambah Rivan.
Harga satu kantong bunga hanya Rp5 ribu. Namun dari tangan ke tangan, bunga-bunga itu menjelma menjadi penghubung antara yang hidup dan yang telah tiada.
![]() |
| Gerbang masuk TPU Mergo Kelurahan Talang Rimbo Baru, Rejang Lebong. |
Setiap helai yang ditaburkan menyimpan doa, harap, dan kenangan.
TPU Mergo bukan sekadar tanah pemakaman biasa. Ia menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi warga dari beberapa desa dan kelurahan di Kota Curup.
Karena usianya yang sudah lama, banyak makam di sana milik generasi terdahulu, kakek, nenek, bahkan buyut dari keluarga yang kini tersebar ke berbagai kota.
Ramadan seolah menjadi panggilan pulang.
Salah satu peziarah, Rahel, datang dari Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Meski kini telah berkeluarga dan menetap di kota lain, ia tak pernah melewatkan momen Ramadan tanpa berziarah ke makam orang tuanya di Talang Rimbo Baru.
“Setiap tahun saya pasti pulang untuk ziarah. Rasanya belum lengkap Ramadan kalau belum ke sini,” ujarnya pelan.
Di tangannya tergenggam sekantong bunga yang baru saja dibelinya dari pedagang di pintu masuk.
Ia berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong makam, berhenti di satu nisan yang sudah akrab di matanya. Bunga-bunga itu ia taburkan perlahan, lalu kedua tangannya terangkat, doa-doa dilantunkan dalam hati.
Tak ada suara keras. Hanya angin yang berdesir ringan, dan suara deru kendaraan yang melintas di jalan raya depan TPU.
Di bulan yang identik dengan ampunan dan penguatan ikatan batin ini, TPU Mergo menjadi ruang pertemuan yang tak biasa.
Pertemuan antara kenangan dan kenyataan, antara rindu dan keikhlasan. Di sana, bunga-bunga tabur bukan sekadar komoditas musiman, melainkan simbol kasih yang tak pernah selesai.
Bagi Rivan dan pedagang lainnya, Ramadan membawa berkah rezeki. Bagi para peziarah, Ramadan menghadirkan berkah kesempatan, untuk kembali mengingat, mendoakan, dan meneguhkan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Di antara warna-warni kelopak bunga dan tanah yang hening, Ramadan di Talang Rimbo Baru mengajarkan satu hal sederhana: bahwa rindu pun bisa menjadi ibadah.***
